Di dalam sejarah, di luar surga, manusia kecewa. Tapi seperti harapan, kecewa juga lahir dari rongga yang bisa menelannya kembali. mungkin rongga itu sebenarnya rasa syukur yang luas tapi tak selalu jelas.
(Goenawan Mohamad)

Rabu, 14 Desember 2011

AJARAN TENTANG KETUHANAN DAN SEMBAHYANG HINDU DHARMA


AJARAN TENTANG KETUHANAN DAN SEMBAHYANG HINDU DHARMA
Oleh:
Syamsul Bahri dan Rifki Firdaus
BAB I
PENDAHULUAN

Menurut orang Bali sejarah kebudayaan dan kemasyaratan Hindu di Bali dimulai dengan kedatangan orang-orang Majapahit di Bali. Zaman sebelumnya dipandang sebagai zaman jahiliah. Kedatangaan orang-orang Majapaht menciptakan jaman baru. Akan tetapi sebenarnya jauh  berabad-abad sebelum zaman Majapahit di Bali Selatan sudah ada suatu kerajaan dengan tradisi Hindu Bali mungkin pada tahapan pertama zaman Mataram Kuno (antara tahun 600 dan 1000).[1] Pada akhir abad ke-10  atau awal abad ke-11 di Bali memerintah  seorang raja, Dharmodayana, yang permaisurinya yang merupakan keturunan seorang mpu Sindok, Mahendrata, yang melahirkan Erlangga. Dengan demikian pada waktu itu di Bali selalu di hubungkan dengan Jawa. Kemudian Erlangga memerintah atas jawa  dan Bali sekaligus. Setelah dia wafat hubungan Bali dan Jawa menjadi kendor.
Kemudian berlajut pada zaman Belanda hingga akhir penjajahan Jepang. Setelah kemerdekaan, agama Hindu mendapat tempat di Kementrian yang pada akhirnya Agama dibentuk suatu Dewan Agama Hindu Bali yang sesudah kongres disebut Parisada. Dharma Hindu Bali (1959), dan yang pada tahun 1964 diganti dengan parisada Hindu Dharma, hingga sekarang.[2] 
Orang Bali yakin , bahwa alam semesta diatur dan dibagi-bagi menurut suatu sistem tertentu. Oleh karena itu seluruh hidup harus disesuaikaan dengan tata tertib kosmos itu. Tiap perbuatan harus sesuai dengan tempatnya. Pengelompokan alam semesta membaginya atas dua bagian yang saling bertentangan tetapi juga saling mengisi. Pembagian ini diungkapkan sebagaai sebutan istilah: Kaja[3] dan Kelod[4].
 Agama Hindu Dharma di Bali merupakan suatu integrasi antara animisme yang berada di Bali dengan Hinduisme yang berasal dari India. Dewa-dewa yang di puja ada tiga yaitu; Brahma, Wisnu, dan Siwa. Didalam agama Hindu Bali dewa yang tertinggi adalah dewa Siwa karena tugasnya sebagai dewa perusak membawa akses terhadap keberadaan tanah dan penduduk pulau Bali dan sikap merka memberikan Korban (yadnya).[5]

BAB II
PEMBAHASAN
AJARAN HINDU DHARMA TENTANG KETUHANAN DAN SEEMBAHYANG
1.      Ajaran Tentang KeTuhanan
Tuhan Yang Maha Esa Menurut Hindu Dharma
Menurut Hindu Dharma, Tuhan hanya satu. Umat Hindu di Indonesia memberi Dia gelar Sang Hyang Widhi Wasa ‘Widhi’ berarti takdir dan ‘Wasa’ artinya Yang Maha Kuasa. ‘Widhi Wasa’ berarti Yang Maha Kuasa, yang mentakdirkan segala yang ada.[6]
 Dia juga disebut Bhatara Ciwa Pelindung Yang Tertinggi. Banyak gelar lagi yang dipersembahkan oleh umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai Sang Hyang Parameswara raja Termulia, Parama Wicesa, Maha Kuasa, jagat Karana pencita Alam dan lain-lainnya.
Sebagai pencipta Ia bergelar Brahma (Utpatti), dalam aksara Ia disimbolkan dengan huruf ‘A’. Sebagai pemelihara dan pelindung (Sthiti) ia disebut Wisnu dalam aksara disimbolkan huruf ‘U’. Sebagai Tuhan yang mengembalikan segala isi alam kepada suber asalnya (Pralina) Ia bergelar Ciwa; sering juga disebut sebagai Icwara, sibolnya dalam aksara adalah huruf ‘M’.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam pustaka suci Weda: “EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN” , artinya: “hanya satu (Ekam Eva) tidak ada duanya Adwityam Hyang Widhi itu itu “EKO NARAYANAD NA DWITYO’STI KACIT” artinya: “hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya”.
Gelar Tuhan disebut dengan berbagai nama disebabkan sifat-sifat Sang Hyang Widhi Yang Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha Pengasih dan tiada terbatas. Sedangkan kekuatan manusia untuk menggambarkan Sang Hyang Widhi sangat terbatas. Rsi-rsi agama Hindu hanya mampu memberi sebutan dengan berbagai nama serta berbagai fungsinya. Yang paling utama ialah TRI SAKTI, yakni:
  1. BRAHMA adalah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai pencipta, dalam bahasa sansekerta disebut “UTPATTI”.
  2. WISNU adalah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai pelindung, pemelihara dengan segala kasih-sayangnya. Pelindung dalam bahasa sansekerta disebut “STHITI”.
  3. SIWA adalah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya melebur (pralina) dunia serta isinya dan mengembalikan dalam penyadaran ke asal.
TRI SAKTI ini mencipta, memelihara dan melebur semesta alam. Mereka menguasai ketiga hukum: lahir, hidup, dan mati serta seluruh makhluk, termasuk manusia. untuk dapat meresapkan kemahakuasaan Hyang Widhi ini, agama Hindu memberikan simbol pada kekuatannya dalam ucapan aksara suci “OM”.[7] Perkataan “OM” adalah aksara suci untuk mewujudkan Sang Hyang Widhi dengan ketiga prabawanya, yaitu:
Aksara ‘A’ untuk menyimbolkan BRAHMA , Hyang Widhi dalam prabhawanya Maha Pencipta.
Aksara ‘U’ untuk menyimbolkan WISNU, Hyang Widhi prabhawanya Maha Melindungi.
Aksara ‘M’ untuk menyimbolkan SIWA, Hyang Widhi dalam prabhawanya Maha Pelebur.
Suara ‘A’, ‘U’ dan ‘M’ ditunggalkan menjadi AUM atau OM.
Dalam Agama Hindu, Sang Hyang Widhi tidak sama dengan Dewa atau Bhatara. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Sang Hyang Widhi yang memberi kekuatan suci guna kesempurnaan hidup makhluk. Dewa itu bukan Sang Hyang Widhi Wasa, Ia hanyalah sinarnya.
 Kata ‘Dewa’ berasal dari bahasa sansekerta ‘DIV’, artinya Sinar (kata ini menjadi Day dan Divine dalam bahasa inggris). Tegasnya,  Dewa berarti bersinar, sedangkan kata Bhatara adalah prabhawa (manifestasi) kekuatan dari Sang Hyang Widhi untuk memberi perlindungan terhadap ciptaannya.
Kata ‘Bhatara’ berasal dari bahasa sansekerta ‘BHATR’ yang berarti pelindung, antara Dewa dan Bhatara sering pemakaiannya diartikan sama saja. Umpamanya Dewa Wisnu disebut juga Bhatara Wisnu karena beliau melindungi makhluk semesta.[8]
Tripramana
Agama Hindu mengajarkan teori “TRIPRAMANA” yakni: tiga cara untuk mengetahui benar-benar adanya Tuhan Yang Maha Esa,[9] yaitu dengan cara:
  1. PRATYAKSA PRAMANA ialah dengan cara melihat langsung, mengenal Tuhan Yang Maha Esa hanya orang-orang sangat suci yang mungkin mengetahui Sang Hyang Widhi dengan cara melihat langsung, yaitu dengan cara Pratyaksa pramana.
  2. ANUMANA PRAMANA ialah dengan cara analisa  yang mudah-mudah saja. Umat Hindu percaya bahwa terdapatnya seluruh alam semesta tentu ada yang menciptakan, yanki Sang Hyang Widhi. Apabila manusia mati tentu ada tempatnya bagi atman yang lepas dari badan. Inipun tentu adalah Sang Hyang Widhi.
  3. AGAMA PRAMANA ialah denga cara mempercayai isi pustaka suci Agama Hindu. Umpamanya kitab suci Upanisad menyatakan bahwa Sang Hyang Widhi adalah “telinga dari semua telinga; pikiran dari semua pikiran; ucapan dari segala ucapan; nafas dari segala nafas; mata dari segala mata”, dan lain sebagainya.
Adanya Sang Hyang Widhi
Maka dari itu, Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa merupakan maha Sempurna dan tidak terbatas, karena itu manusia tidak dapat melihatnya. Walaupun manusia  tidak dapat melihat  Sang Hyang Widhi bukanlah Sang Hyang Widhi tidak ada. Sebagai halnya bintang-bintang di langit, tidak kelihatan pada siang hari tidak berarti bahwa bintang-bintang itu tidak ada atau ada hanya pada waktu malam saja. Justru karena mata manusia tidak mampu menembus sinar matahari, maka dari itulah sebabnya tidak dapat melihat bintang-bintang di langit. Akan tetapi bintang-bintang itu tetap ada. Demikian pula lantaran manusia tidak dapat menembus kegelapan jiwanya. Maka tidak dapat pula melihat Sang Hyang Widhi, akan tetapi Sang Hyang Widhi pada hakikatnya tetap ada. Umat beragama yang benar-benar melaksanakan kehidupan suci sesuai dengan petunjuk dan ajaran pustaka suci, niscaya akan melihat Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dengan terang. Tuhan Yang Maha Esa akan tampil dalam hati-sanubari para umat beragama dan jiwa yang suci lagi murni.
Tidak Berbentuk
Dalam pustaka suci Weda, disebutkan bahwa Sang Hyang Widhi tidak berbentuk, tidak bertangan maupun berkaki, tidak berpancaindra, tetapi beliau dapat mengetahui segala sesuatu yang ada pada makhluk. Lagi pada Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang juga bertambah. Tegasnya Sang Hyang Widhi tidak berbentuk tetapi karena kemuliaannya dapat mengambil wujud sesuai dengan keadaan untuk menegakan Dharma. Perwujudan ini dinamakan AWATARA.
Awatara
Istilah Awatara  adalah perwujudan Sang Hyang Widhi  ke dunia dengan mengambil suatu bentuk yang dengan perbuatan atau ajaran-ajaran sucinya, beri tuntutan untuk membebaskan manusia dari penderitaan dan angkara murka disebabkan kegelapan awidya.[10]
      Pustaka suci Bhagavadgita, Bab IV sloka 7 berbunyi:
      “Manakala Dharma (kebenaran) mulai hilang
      Dan Adharma (kejahatan) mulai merajalela,
      Saat itu, wahai keturunan Brata (arjuna),
      Aku sendiri turun menjelma.
Ternyata apabila dunia dalam penderitaan dan dikuasai Adharma, maka Sang Hyang Widhi turun ke dunia untuk menegakan Dharma. Dalam hal ini, Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dalam maifestasinya sebagai Wisnu, telah menjelma ke dunia ini sebagai Awatara sebanyak Sembilan kali untuk menjelmakan dan menegakan Dharma. Dalam kitab suci Purana, ada disebutkan DHASA AWATARA (Sepuluh Awatara)[11] sebagai berikut:
  1. MATYSA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi berbentuk ikan besar, telah menyelamatkan manusia dari banjir yang maha besar.
  2. KURMA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi sebagai kura-kura raksasa telah menupu dunia ini agar terhindar dari bahaya terbenam.
  3.  WARAHA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi sebagai seekor badak agung yang telah menyelamatkan dunia dan mengait dunia dari bahaya terbenam.
  4. NARASIMBA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi dalam bentuk manusia berkepala samba (singa) telah menyelamatkan dunia dengan mebasmi kekejaman Raja Hirnyakasipu yang terkenal dengan lalim dan selalu menindas Dharma.
  5. WAMANA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi turun ke dunia sebagai orang kerdil yang berpengengetahuan tinggi dan mulia, telah menyelamatkan dunia dengan mengalahkan Maharaja Bali yang selalu menginjak-injak Dharma dan kedaulatan negara.
  6. PARASHURAMA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi turun ke dunia bentuk Ramaparashu, yakni Rama yang bersenjata kapak telah menyelamatkan dunia dengan membasmi segenap kesatrya yang menyeleweng dari ajaran Dharma.
  7. RAMA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi turun ke dunia sebagi Sri Rama, putra raja Dasharatha, telah menyelamatkan duina dengan membasmi Sang Rawana, raja kelaliman dan keangkaramurkaan di negeri Alengka.
  8. KRESNA AWATARA: Awatara Sang Hyang Widhi turun ke dunia sebagai Sri Kresna , raja Dwarawati yang terkenal, telah membasmi raja Kangsa dan jarasada tokoh kelaliman.
  9. BUDDHA AWATARA:  Awatara Sang Hyang Widhi turun ke dunia sebagai Buddha Gautama, putra raja Sudhodana yang lahir  di kapilavastu, telah menyebarkan Dharma dan memberikan tuntunan kepada manusia untuk mencapai Nirwana.
 10.  KALKI AWATARA: penjelmaan terakhir Sang Hyang Widhi akan membasmi segala penghianat dan penyeleweng agama. KALKI akan turun ke dunia pada zaman Kali Yuda, yakni zaman memuncaknya pertentangan. Menurut keyakinan umat Hindu, Awatara Kalki itu sekarang amsih belum lahir, namun pasti akan lahir untuk melenyapkan pertentangan-pertentangan keyakinan itu.
Rsi—Acarya/Sulinggih
Disamping Awatara, dalam agama Hindu terdapat pula istilah ‘Rsi’ dan ‘Acarya’. Rsi adalah orang suci yang atas usahanya melakukan tapa yoga, semadi, memiliki kesucian dan dapat menghubungkan dirinya kepada Sang Hyang Widhi dan sudah mencapai moksa, sehingga dapat melihat hal-hal yang lampau (atita), yang sekarang (wartamana) dan yang akan datang (anagata).[12]
Para rsi berkewajiban memelihara, menuntun umat manusia dengan ajaran-ajaran Weda. Awatara berbeda dengan Rsi, sebab yang satu turun dari atas sedangka yang lainnya dari bawah naik ke atas. Acarya berbeda pula dengan Rsi, sebab Rsi sudah melepaskan dir dari ikatan keduniawian, sedangkan Acarya masih belum dapat melepaskan diri dari ikatan keduniawian, ia harus melakukan upacara keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Ajaran Tentang Seembahyang
Berkenaan dengan ajaran mengenai ritual Hindu yang di ajarkan dalam naskah Kusumadewa sesungguhnya tidak terlepas dengan beberapa mantra dan doa suci yang dilafaskan oleh pemanku disatu tempat yang suci sesuai dengan rangkaian dan enis upacara yang dijelaskan didalamnya.[13]
Beberapa hal utama sebagai periapan rituan Hindu yang diajarkan dalam naskah Kusumadewa yakni pentingnya membersihkan sarana atau alat yang digunakan untuk melakukan perseembahyangan. Adapun alat tersebut antara lain:[14]
  1. Membersihkan Cablong
  2. Menata tikar
  3. Memetik daun
  4. Memasang caniga
  5. Membersihkan juntandeg
  6. Mengisi juntanddeg air uci
  7. Meenempatan dupa pada bangunan suci
  8. Mengahturkan dupa
  9. Dll.
Sebagai akhir dari semua rangkayan ritual dalam upacara piodalan adalah membagikan air suci atau thirta yang diawali dengan memercikan pada bagian kepala sebanyak tiga kali , air suci ddi minum tiga kali, serta air suci digunakan untuk membersihkan muka sebagai kesucian dan anugrah Ida sang Hyang Widhi Wasa juga dibasuhkn tiga kali padda bagian muka. Terakhir adalah nunas sekar disertai ucapan ‘Ong Kasumaduhadi jaya nama swaha’ yang maknanya anugrah dari sang Hyang widhi wasa.[15]
Waktu berdetik-detik, bermenit-menit berhari-hari, bertahun-tahun, terus berputas di kita semua. Para Rsi kita menyadari bahwa pase-fase waktu tersebut mempengaruhi kekuatan-kekuatan dan energi yang berbeda. Kekuatan-kekuatan itu digambarkan sebagai dewa dan dewi. Mengucapkan doa atau arti pada jam-jam tersebut secara teratur sangat penting karena kekuataan dewa dan dewi pada saat itu sangat senssitif pada jam-jam tersebut. Demikian pula pada jam-jam  untuk kita beraktifitas kehidupan keagaamaan dan spiritual.[16]
  • Memahami filosofi seembahyang
Perseembahyangan daalam agama Hindu yang dianut di Bali merupakan cara-cara melakukan hubungan Atma dengan parama-atma, antara manusia dengan Sang Hyang Widhi serta semua manifestassinya.[17]
  • Arti dan makna seembahyang
Kata “seembahyang” berasal dri bahasa Jawa Kuno. Sembah dalam bahasa jawa kuno berarti “menyayangi, menghormati, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri. Sedangkan kata Hyang artinya “suci”.[18] Jadi kata seembahyang berarti menyembah yang suci untuk mnyerahkan diri pada yang hakekatnya lebih tinggi. Dalam bahasa yang biasa yang mereka gunakan adalah “yajna/ yadnya”.
Istilah yajna berasal dari akar kata sangsekerta “yaj” berarti menyembah, berdoa, berkorban, beramal dan bekerja sunguh-sungguh.[19] Pada dasarnya yajna bertujuan uuntuk membalas hutang budi kepada Tuhan yang Maha Esa.
Panca yajna ialah lima hal yang dipersembahkan atau pengabdian[20]
  1. Brahman yajna: berbakti pada Tuhan YME
  2. Devaa yajna: berbakti pada Dewata
  3. Pitri yajna: berbakti pada nenek moyang
  4. Nri yajna: sedekah pada yang miskin
  5. Bhuta yajna: memberikan makanan pada binatang
  • Yang boleh di sembah[21]
    • Ida sang Hyang Widhi wasa
    • Para dewa-dewa
    • Para Rsi
    • Leluhur
    • Manusia
    • Bhuta
    • Arti dan fungsi sarana sembahyang[22]
Melakukan perseembahyangan umumnya umat Hindu Bali menggunakan berbagai sarana untuk memantapkan hatinya dalam melakukan perseembahyangan. Sarana itu ada berupa bunga, buah, daun, api, dan juga thirta.
Sarana
Arti
Fungsi
  1. Bunga
Lambang ketulus ikhlasan pikiran yang suci[23]
Simbol Tuhan Siwa, sarana perseembahyangan.
  1. Canang
Lambang penghormatan,[24] Makna hidup
Benda benar bernilai tinggi
  1. Kawagen
Keharuman
Mengharumkan Nama Tuhan[25]
  1. Api
Sumber kehidupan dewanya Brahma meneranggi dan dharmanya  membakar.[26]
Sebagai pperantara yang dipuj dengan pemmuja.
  1. Tirtha
Air suci[27]
Membersiihkan ddiri ddarri kotoran maupun pencemarann pikiran
  1. Bija
Beras, abu suci
Mengembangkan benih kehidupan suci[28]
  1. Mantra
Syair succi dari kitab Weda Sruuti sabda Tuhan[29]
Melindungi pikiran dari hal yang buruk.
  • Manfaat seembahyang bagi kehidupan
Menentramkan jiwa[30]
Dengan melakukan seembahyang kita didik untuk memiliki sifat ihklas. Ihklas pada akikat nya merupakan kebuTuhan jiwa manusia. Karna apapun yang ada pada diri kita tidak ada yang kekal, semua satu persatu atau bersama-sama akan pergi terpisah dengan diri kita.
 Kemudahan dan ketampanan serta kecantikan  lambat laun akan surut perlahan-lahan meninggalkan diri kita. Kekayaan, jabatan basah, kepandaia juga lambat laun akan kita tinggalkan, cepat atau lambat.
 Demikian juga yang ada di luar diri kita, semua yang kita cintai : istri, anak-anak, ayah, ibu, saudara, sahabat, pimpinan yang baik, orang-orang yanh kita kagumi seperti guru, pendeta yang suci, cepat atau lambat juga akan berpisah dengan kita.
Menentramkan jiwa[31]
Rasa aman dan jiwa yang tentram juga merupakan kebuTuhan rohani pada setiap orang. Rasa aman akan dirasakan oleh orang yang selalumerasa dekat dengan Tuhan. Salah satu kemahakuasaan Tuhan adalah sebagai pelindung ciptaan Nya yang benar-benar meyakiniNya dan selalu memuja dan melaksanakan ajaran-ajaran nya.
Rasa aman itu timbul karna adanya keyakinan bahwa Tuhan akan selalu dilindungi diri umat nya. Ibarat seorang anak yang selalu berada disamping orang tuanya. Seperti orang sakit yang selalu didampingi oleh dokter. Jiwa yang tentram adalah jiwa  yang terlepas dari cemas, gelisah, bingung, ragu-ragu dan kecewa. Nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai material hanya akan dapat dirumbuhkan oleh manusia yang berjiwa tentram.
 Manusia yang berjiwa tentram akan menjadi manusia-manusia yang produktif dan hidup bergairah . hidup di dunia akan dirasakan sangat indah dan semarak sebagai tempat berkarma untuk meningkat kan diri. Tidak aka nada suatu kemajuan di dunia ini  kalau dunia ini di huni oleh manusia-manusia yang berjiwa gelisah, cemas, ragu-ragu dan selalu kecewa melihat keaadaan.
Mengatasi perbudakan materi[32]
Orang yang rajin dan tekun seembahyang akan dapat melihat dengan tenang nilai mana yang lebih tinggi dan nilai mana yang lebih rendah. Manusia memang tidak dapat lepas dengan harta benda. Ibarat perahu tidak akan dapat berlayar tanpa air. Tapi hendaknya diingat air itu adalah sarana, yujuan perahu perahu adalah menuju pantai. Demikian juga manusia harta benda itu adalah alat manusia untuk mencapai pantai bahagia. Juga harus di ingat kalau perahu yang tidak kokoh dan tidak terkendali  justru air lah yang akan menennggelamkan perahu itu.
 Demikian lah manusiakalu tidak sadar bahwa harta benda itu adalah alat justru menjadi terbalik manusia diperalatoleh harta benda dan harta benda itulah yang di anggap tujjuan pertama dan nilai tertinggi. Manusia yang demikian itulah yang akan di perbudak oleh materi.
Menumbuh kan cinta kasih[33]
Rasa dekat dengan Tuhan yang ditumbuhkan oleh ketekunan seembahyang, akan meningkatkan rasa cinta kasih kepada sesama. Karena jiwa atman yang ada pada semua mahkluk adalah satu, bersumber dari Tuhan. Kalau kita umpamakan Tuhan itu magnit dan manusia adalah sepotong besi, maka besi yang ditempelkan kepada magnit tersebut akan menjadi  magnit pula. Kalu ada potongan besi yang lain nya ditempelkan pada besi yang telah menempel pada magnit, besi itupun akan menjadi magnit pula.
Melestarikan alam[34]
Dalam seembahyang sebagai mana telah di uraikan dalam bab-bab sebelum nya membutuhkan sarana dari alam. Dengan seembahyang kita dimotivasi untuk melestarikan bunga-bungaan, daun-daunan, pohon buah-buahan yang kita butuhkan dalam upaca perseembahyangan juga membutuhkan air dari sumber-sumber mata air yang alami. Semua itu menimbulkan usaha untuk melestarikan sumber-sumber mata air tersebut.
Karena sarana-sarana perseembahyangan setiap hari dibutuhkan maka dalam setiap pekarangan umat Hindu, apalagi dalam perkebunan nya, biasanya biasa nya pasti ditanam berbagai tumbuhan-tumbuhan yang ada gunanya sebagai sarana perseembahyangan seperti bunga-bungaan yang beraneka warna.
Disamping itu manusipun lewat ketekunan seembahyang akan tumbu rasa cinta akan alam ciptaanTuhan. Rasa cinta ala mini pun akan mendorong manusia untuk melestarikan alam lingkungan nya yang amat besar jasanya pada kehidupan manusia.
Memlihara kesehatan[35]
Persembahyangan dilakukan dengan beberapa sikap yang dalam agama Hindu disebut Asana, ada beberapa bentuk asana yang dipergunakan untuk melakukan desembahyang. Ada seembahyang yang dilakukan dengan duduk, ada dengan berdiri seperti didalam kelas bagi siswa dalam melakukan Tri sandhaya.
Sikap duduk ada beberapa bentuk misalnya: padmasana. Yaitu sikap seembahyang  yang duduk seperti teratai. Asana ini dilakukan dengan menempatkan kaki kanan diatas paha kiri dan kaki kiri di atas paha kanan, tulang punggung sampai kepala menjadi satu garis tegak, sekujur tubuh dilemaskan.


DAFTAR PUSTAKA

Agung, Anak Gde Okta Netra. Tuntunan Dasar Agama Hindu. Denpasar: Widya Dhrma. 2009
Ali, Mukhti.H.A, Agama-agama di Dunia.Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.1988
Arifin, H.M. Belajar Memahami Ajaran Agama-agama Besar. Jakarta: CV Sera Jaya. 1980
Ghazali, Bahri. M. Studi Agama-agama Dunia. Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya. 1994
Hadiwijono, Harun. Agama Hindu Buddha.Jakarta;Gunung Mulia 1989
Ketut, I Subagiasta. Teologi, Filsafat, Etika, dan Ritual Dalm Agama Hindu. Surabaya:Paramita.  2006
Ketut, I Wiana. Sembahyang Menurut  Hindu. Surabaya: Paramita.  2006
Harsa, Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Medan:Yayasan Perguruan”budaya” & I.B.C. 1980.
Wayan, I Punia. MENGAPA? Tradisi dan Upacara Hindu. Surabaya: Paramita. 2007
Nyoman, I Suarka. KeTuhanan Bali.Surabaya: Paramita 2005



[1] Harun hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta:Gunung Mulia 1989. Hal.105
[2] Harun hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, Hal.107-108
[3] Kaja: berarti kearah gunung atau ilahi, yang sorgawi,yang menguntungkan, yang menyehatkan dan sebagainya.
[4] Kelod: berarti kearah laut atau jahat, yang mengerikan, dan sebagainya.
[5] Drs. M. Bahri Ghazali, M.A Studi Agama-agama Dunia(bagian Agama non Semistik). Jakarta:CV Pedoman Ilmu Jaya 1994. Hal. 37
[6] Pdt. D.D. Harsa Swarbodhi M.A.Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Medan:Yayasan Perguruan”budaya” & I.B.C. 1980. Hal. 51
[7] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Hal. 52
[8] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Hal.52
[9] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Hal. 53-54
[10] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Hal. 54
[11] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma.  Hal. 55-56
[12] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Hal. 57
[13] Drs. I Ketut Subangiasta, M.Si,D.Phil. Teologi, Filsafat, Etika, dan Ritual dalam susastra Hindu.Surabaya:Paraamita 2006. Hal. 38
[14] I Ketut Subangiasta. Teologi, Filsafat, Etika, dan Ritual dalam susastra Hindu Hal. 38-39
[15] I Ketut Subangiasta. Teologi, Filsafat, Etika, dan Ritual dalam susastra HinduHal. 40-41
[16] Pt. Kisanlal Sharma. Alih: I Wayan Punia, mengapa? Tradisi Dan Upacara Hindu. Surabaya:Paramita 2007 hal. 4-5
[17] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dharma.  Hal. 151
[18] Drs. I Ketut Wiana, M. Ag. Seembahyang Menurut Hindu. Surabaya:Paramita 2006. Hal. 5
[19] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma.  Hal. 151
[20] Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma. Hal. 153
[21] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 44
[22] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 55
[23] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 55
[24] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 57
[25] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 61
[26] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 80
[27] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 105-113
[28] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 114
[29] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 119
[30] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 125
[31] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu.Hal. 126-127
[32] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 127-128
[33] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 129
[34] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 130
[35] I Ketut Wiana. Seembahyang Menurut Hindu. Hal. 131-132

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar